Rumah Murah Di Bogor Asri



Rumah murah di Bogor adalah salah satu bukti konsistensi pemerintah dalam menyediakan rumah layak huni khususnya pada masyarakat bawah. Hal ini patut kita apresiasi mengingat puluhan juta masyarakat di Indonesia masih krisis tempat tinggal, dan ternyata pemerintah cukup tanggap akan hal itu. Rumah murah terutama terkait desain interior dan eksteriornya, ternyata masih banyak orang yang tidak puas dengan desain rumah murah tersebut, sehingga tak jarang mereka lebih suka membangun sendiri unit rumah dengan biaya murah daripada membeli atau mendapatkan rumah melalui KPR. Secara matematis merencanakan rumah sendiri tentu biaya yang dibutuhkan bisa lebih murah sekaligus kita lebih leluasa menentukan desain rumah dengan menyesuaikan dana yang kita miliki.

Info Beli Rumah Murah Di Bogor

Merencanakan rumah dengan rancangan sendiri tentunya banyak yang harus kita persiapkan mencakup semua biaya bangunan yang akan dikeluarkan. Biaya yang dimaksud adalah biaya jasa pekerja, jasa arsitek, jasa kontraktor, biaya operasional, dan biaya desain finishing. Khusus biaya arsitek sebenarnya tidak ada patokan khusus, tergantung profesioanalitas si arsitek itu sendiri, termasuk apakah ia mempunyai track record yang bagus atau masih minim jam terbang. Intinya biaya arsitek tergantung pengalamannya selama ini dalam meng-handle proyek-proyek besar.

Penentuan Biaya Rumah

Tak hanya rumah murah di Bogor namun secara umum biaya bangun rumah dimanapun pasti melibatkan biaya untuk jasa kontraktor. Kontraktor sendiri adalah seseorang atau team yang biasanya memborong pengerjaan rumah mulai dari pemasangan pondasi hingga tahap finishing. Untuk seorang kontraktor biasanya ada 3 sistem pembayaran yang berbeda.

1. Cost & Fee. Sistem pembayaran cost & fee adalah cara pembayaran dimana jumlah nominal yang dibayarkan pada kontraktor berdasarkan prosentase dari keseluruhan biaya rumah dengan kisaran 10 – 15% dan dibayarkan setelah rumah selesai dibangun. Sistem ini sedikit ada kelemahan yang kadang-kadang menimbulkan kerugian dipihak pemilik rumah. Contohnya ada sebagian kontraktor yang curang dalam proses pengerjaan rumah. Mereka terlihat mengulur-ulur waktu sehingga proses pengerjaan rumah menjadi lebih lama dengan harapan upah yang akan diterima semakin besar. Ini tentu akan menimbulkan penggelembungan anggaran sehingga tidak sesuai dengan rancangan anggaran biaya (RAB) yang ditentukan sebelumnya.

2. Fixed Cost & Fee. Metode fexed Cost & Fee sistemnya hampir mirip dengan Cost & Fee namun pembayarannya dilakukan sebelum proses pengerjaan rumah dimulai atas kesepakatan kedua pihak. Dengan kata lain berapapun waktu yang dibutuhkan kontraktor untuk menyelesaikan satu unit rumah, calon pemilik rumah tidak perlu was-was dengan adanya pembengkakan dana. Namun lagi-lagi bisa saja pemilik rumah juga dirugikan, pasalnya dengan sistem pembayaran dimuka umumnya kontraktor ingin segera menyelesaikan kontrak kerja tersebut secepat mungkin. Hasilnya tentu saja mudah ditebak, struktur dan desain rumah sangat jauh dari harapan dan mungkin akan berdampak kerugian inmateriil pada pemilik rumah.

3. Lumpsum atau Sistem Borongan. Tak jarang rumah murah di Bogor atau di daerah-daerah lain menggunakan sistem lumpsum untuk pembayaran pada pihak kontraktor. Umumnya sistem ini digunakan oleh mereka yang benar-benar tidak mau repot dengan segala urusan yang melibatkan masalah yang ada sangkut pautnya dengan desain rumah. Intinya mereka tidak mau berurusan dengan keuangan untuk material bangunan, upah pekerja, biaya operasional, dan lain sebagainya. Dalam hal ini calon pemilik rumah hanya perlu sekali membayar semua biaya setelah rumah selesai dibangun. Sistem lumpsum ini biasanya hanya digunakan oleh calon pemilik rumah yang memiliki dana lebih dari cukup.

Please Share :)
0